Membuka
Pintu Hati
Sekelompok
orang yang baru saja meninggal mendapatkan diri mereka sedang berdiri antre di
depan gerbang akhirat. Sambil menunggu pengadilan Illahi, mereka mulai menanyai
diri mereka sendiri mengenai perilaku mereka di dunia.
''Apakah
dulu aku menjadi orang tua yang baik?'' ''Apakah aku berhasil mencapai sesuatu
yang berharga dalam hidupku?'' ''Apakah aku rajin beribadah sepanjang malam?''
''Apakah aku cukup berderma kepada fakir miskin?'' Dan, ketika akhirnya mereka
sampai di gerbang, semua jiwa itu dihadapkan hanya pada satu pertanyaan,
''Seberapa besar kamu dulu mengasihi?''
Mengasihi
orang lain adalah langkah pertama dari perjalanan panjang masuk ke dalam diri.
Perjalanan ke dalam diri memang tak mudah. Banyak orang menyerah ketika baru
memulainya. Kesibukan sehari-hari sering menjadi alasan. Tapi, penyebab
sebenarnya bukan itu. Persoalan sebenarnya adalah pintu hati kita yang
tertutup, bahkan terkunci. Ini membuat telinga kita tak mendengar dan mata kita
tak melihat. Kita tak akan pernah dapat memulai perjalanan sebelum menemukan
kuncinya, yaitu ''cinta dan kasih Sayang.''
Tanpa
adanya rasa cinta pada sesama, pintu-pintu gerbang menuju kesadaran yang
terdalam tak akan pernah terbuka. Agama-agama besar di dunia sebenarnya
memiliki pesan tunggal: kasih sayang. Bahkan, Tuhan selalu dilukiskan sebagai
Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan bahasa yang berbeda semua agama
selalu mengatakan: ''Sayangilah orang lain! Anda belum beriman sebelum mampu
menyayangi orang lain sebagaimana Anda menyayangi diri Anda sendiri.''
Pernyataan
diatas sungguh dahsyat! Ini benar-benar menjelaskan bahwa ukuran kemajuan
spiritual Anda bukanlah pada seberapa rajinnya Anda beribadah kepada Tuhan.
Esensi keberagamaan tidaklah ditentukan oleh banyaknya ruku dan sujud yang Anda
lakukan, tetapi pada seberapa besar Anda mengasihi orang lain. Belajar
mengasihi adalah sasaran kehidupan spiritual.
Salah
satu cara praktis untuk mengembangkan sikap cinta kasih adalah dengan mulai
menyadari akan penderitaan. Sadar akan penderitaan -- entah itu penderitaan
kita sendiri atau penderitaan orang lain -- akan membuat hati kita melunak.
Mari
kita mulai dengan sebuah cerita. Di sebuah SD seorang guru bertanya pada
murid-muridnya, ''Siapa yang sudah sarapan pagi ini?'' Kira-kira separo murid
mengacungkan tangan. Guru itu kemudian bertanya kepada anak-anak yang tidak
mengacungkan tangan, ''Mengapa kalian tidak sarapan?'' Sebagian menjawab tak
sempat karena sudah terlambat. Sebagian lagi mengatakan belum merasa lapar, ataupun
tak menyukai sarapan yang disajikan.
Semua
memberikan jawaban senada kecuali satu anak. ''Karena,'' jawabnya, ''Sekarang
bukan giliran saya.'' ''Bukan giliranmu?'' tanya sang guru. ''Apa maksudmu?''
''Dalam keluarga kami ada empat anak,'' ujarnya, ''Tapi, ayah tak punya cukup
uang untuk membeli makanan supaya tiap orang bisa sarapan setiap hari. Kami
harus bergiliran dan hari ini bukan giliran saya.''
Apa
yang Anda rasakan ketika membaca kisah ini? Bagaimana pula perasaan Anda
membaca berita mengenai Haryanto (12 tahun) yang hampir tewas gantung diri di
rumahnya. Ia putus asa karena orang tuanya tak mampu memberikan uang untuk
tugas sekolahnya. Padahal uang yang dimintanya hanya Rp 2500!
Orang-orang
seperti ini ada di sekitar kita. Tapi, kadang-kadang kita tak bisa melihatnya
karena mata kita tertutup. Yang sebenarnya tertutup adalah mata hati kita. Ini
bisa terjadi karena hati kita dipenuhi oleh ego dan kepentingan kita sendiri.
Kita terlalu banyak tertawa dan sibuk bergaul dengan orang-orang berpunya. Ini
membuat hati kita tertutup.
Untuk
menjalankan cinta kasih kita perlu memulai dengan mencintai diri kita, kemudian
orang-orang terdekat kita. Lihatlah mereka dengan hati Anda. Bukankah orang tua
Anda adalah orang yang rela mengorbankan hidupnya bagi Anda? Bukankah pasangan
Anda adalah orang yang telah memilih menyerahkan hidupnya kepada Anda? Bukankah
anak-anak Anda sangat mengagumi Anda dan merindukan kebersamaan dengan Anda?
Bukankah pembantu Anda adalah orang miskin yang mengabdikan hidupnya untuk
melayani Anda? Teruslah perluas dengan mengamati orang-orang di sekitar Anda.
Mereka semua memiliki penderitaan dan tantangan masing-masing.
Seorang
bijak pernah mengatakan, ''Ketika kamu melihat dirimu tidak berbeda dari orang
lain, ketika kamu merasakan apa yang mereka rasakan, lalu siapa yang bisa kamu
sakiti?'' Inilah cara menumbuhkan cinta. Kita semua sama karena itu jangan
pernah menilai orang dari penampilan fisiknya. Tubuh bukanlah diri kita yang
sebenarnya tetapi hanya sekadar 'sangkutan' dari jiwa. Jiwa itulah esensi
manusia yang sejati.
Tapi,
merasakan baru merupakan permulaan cinta. Cinta yang sebenarnya haruslah
diwujudkan dengan memberikan sesuatu kepada orang lain. Ukuran cinta adalah
pemberian, sekecil apapun bentuknya. Ibu Theresa pernah mengatakan, ''Yang
penting bukan seberapa besar yang kita perbuat, melainkan seberapa besar cinta
kasih yang kita sertakan dalam perbuatan kita.''
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon