Ini
joke politik dari zaman Orde Baru. Konon di masa itu ada tiga jenis manusia.
Pertama, orang yang pandai dan pro pemerintah. Orang ini pasti tidak jujur.
Kedua, orang yang jujur dan pro pemerintah. Orang ini pasti tidak pandai.
Ketiga, orang yang pandai dan jujur. Orang ini pasti tidak pro pemerintah.
Lelucon
di atas mungkin tak lagi relevan untuk situasi sekarang. Kini zaman berganti.
Orang yang dulu berkuasa kini dihujat dan dikejar-kejar. Sebaliknya yang
dulunya ditindas kini ganti berkuasa. Hanya segelintir politikus ulunglah yang
bisa eksis di segala zaman. Salah satunya Akbar Tanjung. Berbeda dengan
tokoh-tokoh lain, Akbar memilih tetap di Golkar. Bahkan walaupun parpol ini
dihujat dimana-mana, kepiawaian Akbar berpolitik membuatnya relatif bisa diterima
kalangan reformis.
Namun
belakangan ini ia tengah ditimpa "musibah". Pengakuan Rahardi Ramelan
mengenai dana Yanatera Bulog sebesar Rp 40 Miliar benar-benar menempatkannya di
ujung tanduk. Ia kepeleset ketika mengaku "lupa" nama yayasan
tempatnya menyalurkan dana. Kasus ini sebenarnya merupakan "bom
waktu" yang hendak diledakkan Gus Dur, tetapi tokoh NU ini keburu lengser.
Akbar pun lolos. Tapi namanya "bom waktu", cepat atau lambat pasti
meledak. Selamatkah Akbar kali ini? Waktu akan membuktikannya.
Yang
pasti, apa yang terjadi pada Akbar menunjukkan bukti berlakunya hukum alam
(natural law). Hukum Alam mempunyai tujuh karakteristik. Pertama, berlaku
dimana saja (universal). Kedua, berlaku kapan saja dan tak mengenal waktu
(timeless). Ketiga, dapat diramalkan (predictable). Keempat, berada di luar
kita (eksternal). Kelima, beroperasi dengan atau tanpa pemahaman kita. Keenam,
terbukti dengan sendirinya (self evident). Ketujuh, memampukan jika dipahami.
Suatu
hukum alam haruslah memenuhi tujuh ciri tersebut. Salah satunya adalah hukum
Gravitasi yang berlaku dimana saja, dan kapan saja. Bahkan pemahaman mengenai
hukum inilah yang membuat kita mampu menerbangkan pesawat terbang. Anda yang
mempelajari fisika, kimia, biologi, astronomi, kedokteran, teknik dan
sebagainya tentunya menguasai hukum-hukum yang mengatur segala sesuatu di alam
semesta.
Menariknya,
hukum alam ternyata juga berlaku dalam kehidupan sosial. Contohnya adalah
"hukum kepercayaan". Dimanapun di dunia ini tak ada orang yang suka
dibohongi. Karena itu berbohong akan menghilangkan kepercayaan orang. Contoh
lain adalah "hukum menang-menang". Siapapun orangnya pasti ingin
menang, tak ada orang yang mau kalah. Ada orang yang mengalah tapi tujuannya
adalah untuk mencapai kemenangan.
Kenyataannya,
orang lebih mudah percaya pada hukum alam semesta ketimbang hukum alam dalam
kehidupan sosial. Ini karena hukum di alam semesta menghasilkan efek langsung.
Cobalah lemparkan koran yang tengah Anda baca ini, koran itu akan langsung
jatuh. Coba masukkan tangan Anda ke dalam air atau api. Seketika itu juga
tangan Anda basah atau terbakar. Jadi dalam hal ini time of response-nya adalah
nol.
Tidak
demikian halnya dengan kehidupan sosial. Seorang suami yang selingkuh mungkin
tetap dipercaya dan disayang istrinya. Bahkan selingkuh, kata dr Boyke Dian
Nugraha, adalah singkatan dari "Selingan Indah, Rumah Tangga Utuh."
Seorang
koruptor bisa saja berceramah tentang kebaikan dan dihormati masyarakat.
Pedagang yang curang justru makin makmur dan makin kaya. Penguasa yang zalim
bisa berkuasa puluhan tahun. Seorang plagiator bisa menjadi ilmuwan yang
disegani. Tapi semua ini hanyalah soal time of response. Cepat atau lambat
hukum alam akan membuktikan kebenarannya.
Persoalannya,
hukum alam ada di luar kontrol kita. Pakar Kepemimpinan Stephen Covey
mengatakan, "Anda dapat memilih tindakan Anda, namun Anda tak dapat
memilih akibat-akibatnya. Mereka diatur oleh hukum alam atau
prinsip-prinsip". Jadi, silahkan pilih tindakan Anda, tapi jangan lupa
bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi tersendiri yang tak dapat dipisahkan
karena berada dalam satu paket.
Memahami
hukum alam memudahkan kita meramalkan apa yang akan terjadi. Lebih dari setahun
sebelum pergantian pemerintahan, di rubrik kepemimpinan sebuah majalah bisnis
terkemuka, saya telah memprediksi kejatuhan Gus Dur karena ia tak mengindahkan
hukum alam. Saat itu prediksi politik belum mengarah kesana.
Tetapi
saya berani mempertaruhkan kredibilitas saya sebagai analis, semata-mata karena
keyakinan saya akan berlakunya hukum alam. Waktu itu saya mengutip Cecil B. De
Mille yang dalam film The Ten Commandment mengatakan, "We cannot break the
principle, we can only break ourselves against the principles. Ini berarti Gus
Dur tak akan pernah jatuh oleh lawan-lawan politiknya, tetapi oleh dirinya
sendiri.
Lantas
bagaimana dengan Akbar? Akankah ia terjungkal? Di negara kita segala sesuatunya
bisa diatur. Karena itu lolos dari hukum di Indonesia bukanlah hal yang sulit.
Yang sulit adalah untuk lolos dari Hukum Alam. Hukum alam tersebut bernama :
Kepercayaan Rakyat.
Sign up here with your email

ConversionConversion EmoticonEmoticon